Melihat Persoalan dari Kacamata Anak
Maraknya fenomena anak melakukan
tindak pidana, bahkan diantara mereka tidak sedikit menjadi residivis, bahkan lebih mengkhawatirkan. Sehingga
diperlukan penanganan yang ekstra hati-hati, dan tidak parsial. Penanganan
delinkuensi anak tidak sekedar berhenti pada soal vonis pengadilan. Namun
pemenuhan hak – hak dasar anak harus mendapatkan prioritas dalam berbagai
situasi apapun, juga ketika anak berhadapan dengan hukum. Terutama rehabilitasi
psikososialnya harus dipenuhi dengan melihat problem dasar si anak. Jika
persoalan delinkuensi anak hanya dilihat dari perspektif hukum maka persoalan
ini tidak akan pernah selesai karena problem dasar anak tidak terselesaikan
yakni mencakup aspek internal dan eksternal.
Menurut Kepala BAPAS Surakarta Ahmad
Hardi, Bc.IP., SH, MM anak-anak
yang melakukan tindak pidana dilatarbelakangi oleh masalah tekanan ekonomi,
kurangnya kepedulian masyarakat, dan pengaruh lingkungan pergaulan.
Karena kondisi yang masih labil, mengakibatkan mereka mudah terpengaruh untuk
berbuat negatif. Rata-rata anak-anak tidak memiliki kemampuan untuk menganalisa
baik buruknya dampak perbuatan yang akan dilakukannya. Umumnya pada kasus-kasus
residive faktor tekanan ekonomi dan
pengaruh lingkungan lebih dominan, sedangkan kalau dilihat dari segi bakat
sangat kecil kemungkinannya. Namun selama ini BAPAS tidak pernah memiliki klien
residive anak, tegasnya menambahkan.
Ketika kami menanyakan peran yang
dilakukan BAPAS terkait anak pelaku tindak pidana, ia memaparkan bahwa
kewenangan BAPAS terbatas pada pelaksanaan yang mencakup tiga hal penting; pertama
pre ejudication meliputi
penyajian data keluarga, latar belakang anak, pergaulan, sekolah, karakter, dan
memuat saran-saran untuk diajukan di persidangan; kedua, ejudication
mendampingi anak di persidangan dilakukan oleh pendamping kemasyarakatan; ketiga post ejudication, setelah anak diputus pidana pendamping
kemasyarakatan mengintegrasikan anak kembali ke lingkungan keluarga/masyarakat.
Menurutnya BAPAS tidak dapat berbuat lebih banyak untuk menangani ABH karena
keterbatasan ruang gerak. Kewenangan BAPAS hanya dapat mengawasi anak selama
pada masa bimbingan. Sehingga BAPAS tidak dapat mengawasi anak terus menerus, Di
satu sisi anak juga berhak untuk tidak diawasi. Menangani persoalan ABH perlu kepedulian semua pihak, tidak
dapat mengandalkan institusi formal sebagai harapan mutlak. Semua lapisan
masyarakat dari tingkat bawah harus terlibat, demikian juga pemerintah setempat,
“ tegasnya.
Ditemui secara terpisah di ruang kerjanya, Kasi Intel Kejaksaan Negeri Surakarta Sunarko juga berpendapat untuk
penanganan perkara anak harus lintas sektoral, sedangkan jika melihat latar
belakang yang ditemuinya pada kasus delinkuensi anak pada umumnya anak-anak
yang melakukan tindak pidana tidak mendapatkan kenyamanan ketika di
tengah-tengah keluarganya, umumnya mereka frustasi, dan ingin mendapatkan
perhatian. Mereka mencoba mencari jati diri namun terjerumus melakukan perilaku
yang melanggar norma dan etika. Namun dilihat dari segi latar belakang
sosialnya merata, tidak selalu ditemukan pada golongan ekonomi menengah ke
bawah. Kasus-kasus yang masih sering dijumpai antara lain adalah pencurian,
narkotika, pelecehan seksual, juga pembunuhan.
Menyoal penanganan yang tepat menurutnya lebih
dikembalikan pada keluarga untuk memberikan perhatian yang cukup pada anak,
penanaman nilai-nilai agama/religi. Terkait penyelesaian kasus-kasus ABH tugas
jaksa melakukan penuntutan sesuai aturan hukum yang sudah ada, nantinya
tergantung penilaian hakim,” tambahnya. Ia menegaskan tindak pidana yang
dilakukan anak tidak harus dipidana, bisa jadi mereka menjadi anak negara.
Problemnya jika menerapkan Restorative Justice
(RJ) semua sisi harus dilihat. Hal
ini menjadi kontradiksi, seringkali pemahaman masyarakat pelaku memang harus
dihukum. “Pencuri kok dilepaskan”, ini korban dan masyarakat tidak bisa
menerima kalau tidak dihukum penjara. Umumnya masyarakat itu tahunya kalau
kasus anak juga harus dipidana, apalagi pada kasus residivis, paparnya. Pada
residivis anak juga berlaku tindak pidana yang dilakukan akan memberatkan
hukumannya. Aspek-aspek yang dilihat diantaranya berulangkali, berbelit-belit,
sudah menikmati hasilnya, dan meresahkan masyarakat. Aspek normatif menjadi
acuan jaksa untuk menuntut sanksi pemidanaan dengan maksud agar si anak jera.
Silahkan klik link dibawah ini untuk melihat artikel yang berhubungan dengan delinkuensi anak:
Part 1
Part 3
Part 4
Silahkan klik link dibawah ini untuk melihat artikel yang berhubungan dengan delinkuensi anak:
Part 1
Part 3
Part 4
0 comments:
Post a Comment